Bab 3: Kesepian di Tengah Keramaian Shibuya

lev Ryley
0
Ikuti perjalanan Dokter Cindy, psikolog Muslimah di Dresden, Jerman, dalam menyembuhkan luka jiwa pasien global dari Tokyo hingga Paris. Dibumbui aksi kocak Lev Ryley dari Banjarmasin, novel Islami 2025 ini menyajikan harmoni antara sains, cinta keluarga, dan ketulusan doa.


Langit Dresden sore itu berwarna ungu tembaga, sebuah fenomena musim dingin yang selalu membuat Dokter Cindy terpaku sejenak di balkon apartemennya. Namun, keindahan itu hanya singgah sebentar sebelum ia harus kembali ke "ruang praktiknya"—sebuah sudut meja kayu ek dengan pencahayaan yang diatur sedemikian rupa agar memberikan kesan hangat bagi siapa pun yang menatapnya dari balik kamera.

Pasien berikutnya adalah seorang pemuda bernama Kenji, seorang mahasiswa pascasarjana asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa penuh di Tokyo, Jepang. Saat koneksi tersambung, layar menampilkan latar belakang yang sangat kontras dengan ketenangan Dresden. Di belakang Kenji, melalui jendela kaca besar sebuah kafe, terlihat ribuan orang menyeberangi Shibuya Crossing di bawah guyuran lampu neon yang berkedip-kedip. Tokyo tidak pernah tidur, namun mata Kenji tampak sangat mengantuk—bukan karena kurang tidur, melainkan karena kelelahan jiwa.

"Dokter Cindy," suara Kenji nyaris tertelan bisingnya suara mesin kopi di latar belakangnya. "Di sini ada jutaan orang. Di kereta, di kampus, di jalanan. Tapi saya merasa seolah-olah saya adalah satu-satunya manusia yang hidup di planet ini. Semakin ramai Tokyo, semakin saya merasa transparan."

Cindy mengangguk pelan, jemarinya menari di atas buku catatan. Ini adalah fenomena hikikomori psikologis yang sering menimpa perantau. "Kenji, kamu sedang mengalami apa yang disebut sebagai social isolation di tengah megapolitan. Di Jepang, ada budaya Gaman—bertahan dan bersabar dalam penderitaan tanpa mengeluh. Tapi kamu harus ingat, dalam Islam, sabar bukan berarti memendam luka sendirian sampai meledak."

Kenji tertunduk. "Saya merasa berdosa, Dok. Saya sudah diberi beasiswa, orang tua saya bangga, tapi saya justru ingin menangis setiap kali melihat pintu apartemen saya yang sempit. Saya merasa tidak bersyukur."

"Jangan menghakimi perasaanmu sendiri, Kenji," potong Cindy dengan nada teduh. "Rasulullah SAW pun pernah mengalami 'Tahun Kesedihan' (Amul Huzni). Merasa sedih bukan berarti tidak beriman. Cobalah teknik ini: setiap kali kamu merasa 'transparan' di keramaian Shibuya, berhentilah sejenak. Tarik napas, dan katakan dalam hati, 'Ya Allah, Engkau melihatku, dan itu cukup bagiku.' Carilah koneksi dengan Sang Pencipta saat manusia terasa jauh. Dan satu lagi, carilah komunitas. Jangan hanya berteman dengan buku dan riset. Manusia adalah makhluk ukhuwah."

Selama sisa sesi, Cindy memberikan strategi untuk memecah isolasi diri Kenji, memintanya untuk mulai mengunjungi masjid di Tokyo lebih sering, bukan hanya untuk shalat, tapi untuk sekadar menyapa sesama manusia.

Begitu sesi Tokyo berakhir, Cindy bersiap untuk menutup laptopnya, namun sebuah notifikasi darurat masuk dari WhatsApp. Itu adalah foto dari Lev Ryley.

Foto itu menampilkan Lev sedang berdiri di tengah sawah di pinggiran Banjarmasin, mengenakan topi caping, namun dengan setelan jas hitam yang ukurannya tampak kebesaran. Di bawah foto itu tertulis pesan: "Kak! Aku baru saja diangkat jadi 'Konsultan Cinta dan Kehidupan' tingkat RT. Ini penampilan profesionalku. Gimana? Sudah mirip psikolog Jerman belum?"

Belum sempat Cindy membalas, ponselnya sudah berdering. Panggilan video dari sang sepupu.

"Lev! Apa-apaan pakaian itu? Kamu bisa kena heatstroke pakai jas di tengah sawah Kalimantan!" seru Cindy, antara ingin marah dan tertawa.

"Tenang, Kak! Ini demi kredibilitas," jawab Lev sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung dasi yang miring. "Tadi ada tetangga, namanya paman Arsyad, galau karena ayam jagonya nggak mau berkokok. Dia pikir ayamnya depresi. Jadi aku datang pakai jas biar terlihat meyakinkan saat memberikan bimbingan konseling pada si ayam."

Cindy tertawa terbahak-bahak hingga air mata muncul di sudut matanya. "Lalu, apa yang kamu katakan pada ayam itu, wahai Konsultan Lev?"

"Aku pakai teori Kakak tentang environment change! Aku bilang ke Paman Arsyad, mungkin ayamnya bosan lihat kandang yang itu-itu saja. Jadi aku sarankan ayamnya dibawa jalan-jalan ke pinggir sungai biar lihat pemandangan baru. Dan tahu nggak? Begitu kena angin sungai, ayamnya langsung berkokok kencang! Teori Kakak manjur banget, meski objeknya unggas!"

Cindy menggeleng-gelengkan kepala. "Lev, teori itu untuk manusia yang stres karena tekanan kerja atau kesepian seperti Kenji di Tokyo, bukan untuk ayam jago!"

"Tapi intinya sama, Kak," ujar Lev tiba-tiba menjadi serius, sebuah momen langka yang selalu mengejutkan Cindy. "Semua makhluk itu butuh merasa 'hidup'. Si Kenji di Tokyo itu mungkin cuma butuh satu orang yang nanya 'Sudah makan belum?' pakai bahasa ibu. Kakak jangan terlalu serius di sana. Sesekali jadilah seperti ayam Paman Arsyad, keluar dari kandang apartemenmu, cari angin Elbe, dan 'berkokoklah' pada dunia bahwa kamu bahagia."

Cindy tertegun. Kalimat Lev yang asal-asalan itu seringkali mengandung filsafat hidup yang lebih dalam daripada jurnal psikologi yang ia baca di perpustakaan Dresden.

"Terima kasih, Lev. Kamu benar. Kadang aku terlalu sibuk mengurus jendela hati orang lain sampai lupa membuka jendela kamarku sendiri," ucap Cindy tulus.

"Nah, itu baru Kakakku! Oh iya, Kak, jangan lupa ya, Ahmad yang 'wajah ubin masjid' itu titip salam. Katanya dia habis baca artikel Kakak tentang kesehatan mental di majalah daring, dan dia makin kagum. Katanya, Kakak itu seperti intan martapura yang tersimpan di Jerman. Cieee!"

"Sudah! Matikan teleponnya, Lev! Aku mau istirahat!" Cindy tersipu, mematikan sambungan sebelum Lev mulai menggoda lebih jauh.

Malam itu, di Dresden yang sunyi, Cindy membuka jendelanya lebar-lebar. Udara dingin masuk, namun hatinya terasa hangat. Ia teringat Kenji di Tokyo, Amandine di Paris, dan Lev di Banjarmasin. Dunia ini begitu luas, masalahnya begitu beragam, namun solusinya seringkali sederhana: koneksi. Koneksi kepada Tuhan, dan koneksi kepada sesama manusia yang saling peduli.

Cindy mengambil secarik kertas, menuliskan sebuah kutipan untuk ia pajang di cerminnya besok pagi: "You are not alone, for Allah is with the broken-hearted."

Ia kemudian merebahkan diri, memejamkan mata, dan dalam tidurnya, ia seolah mencium aroma sungai Martapura yang bercampur dengan harum roti stollen khas Dresden—sebuah harmoni indah dari dua dunia yang ia cintai.

Informasi Tambahan & SEO:

Bab ini menggambarkan realitas isolasi sosial yang dialami mahasiswa di luar negeri, khususnya di kota-kota besar seperti Tokyo. Penggabungan antara Psikologi Klinis dan Nilai Islami (seperti konsep Ukhuwah) memberikan perspektif baru bagi pembaca. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai layanan dukungan kesehatan mental bagi warga Indonesia di luar negeri, Anda dapat menghubungi Peduli WNI. Sementara itu, untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai budaya unik Banjarmasin, silakan kunjungi laman resmi Portal Berita Banjarmasin.

Perjalanan berlanjut ke Bab 4, di mana Lev Ryley benar-benar mencoba membuka praktik konseling di pasar, membawa kekacauan komedi yang tak terbayangkan bagi Dokter Cindy.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default