Bab 9: Dinginnya Salju di Moskow

lev Ryley
0
Ikuti perjalanan Dokter Cindy, psikolog Muslimah di Dresden, Jerman, dalam menyembuhkan luka jiwa pasien global dari Tokyo hingga Paris. Dibumbui aksi kocak Lev Ryley dari Banjarmasin, novel Islami 2025 ini menyajikan harmoni antara sains, cinta keluarga, dan ketulusan doa.


Malam telah jatuh sepenuhnya di Dresden. Suhu udara merosot hingga minus lima derajat Celsius, membuat embun di kaca apartemen Dokter Cindy membeku menjadi pola-pola serupa bulu burung yang rumit. Di dalam ruangan, Cindy hanya menyalakan sebuah lampu meja yang memancarkan cahaya kekuningan lembut, menciptakan atmosfer yang intim dan tenang. Malam ini, ia memiliki janji temu dengan seorang pasien yang profilnya cukup kontras dengan kesederhanaan Lev di Banjarmasin.

Layar monitor menyala, menampilkan seorang pria paruh baya bernama Dmitry. Ia berada di sebuah kantor pribadi yang sangat mewah di kawasan Moscow City, Moskow, Rusia. Di belakangnya, melalui dinding kaca yang luas, terlihat kerlap-kerlip lampu kota Moskow yang tertutup salju tebal, dengan gedung-gedung pencakar langit yang menembus awan musim dingin. Dmitry adalah seorang taipan logistik yang sukses, namun raut wajahnya menunjukkan keletihan yang amat sangat—jenis keletihan yang tidak bisa disembuhkan oleh liburan semahal apa pun.

"Dokter Cindy," Dmitry memulai dalam bahasa Inggris yang berat. "Saya memiliki segalanya. Saya memiliki armada kapal yang melintasi samudera, saya memiliki rumah di berbagai negara, dan saya memiliki pengaruh. Namun, mengapa setiap kali saya pulang ke rumah yang besar ini, saya merasa seperti masuk ke dalam kuburan yang mewah? Saya merasa hampa, seolah-olah jiwa saya tertinggal di suatu tempat yang saya sendiri tidak tahu di mana."

Cindy menyimak dengan saksama. Ia melihat fenomena Existential Vacuum, sebuah kondisi di mana makna hidup hilang ditelan oleh kejayaan material. "Dmitry," ujar Cindy dengan nada yang sangat tenang, "dalam tradisi spiritual kami, ada sebuah konsep yang disebut Zuhud. Banyak orang salah paham dan mengira Zuhud berarti meninggalkan dunia dan hidup miskin. Padahal, Zuhud yang sebenarnya adalah saat dunia ada di tanganmu, namun tidak sedikit pun masuk ke dalam hatimu."

Dmitry terdiam, matanya menatap tajam ke arah layar.
"Anda merasa hampa," lanjut Cindy, "karena Anda membangun istana untuk tubuh Anda, tapi membiarkan jiwa Anda gelandangan. Anda memberi makan ego dengan kesuksesan, tapi membiarkan ruh Anda kelaparan. Di Moskow yang dingin ini, Anda membutuhkan kehangatan yang tidak berasal dari pemanas ruangan, melainkan dari rasa memberi. Kapan terakhir kali Anda membantu seseorang tanpa ada kontrak bisnis yang ditandatangani?"

Cindy kemudian membimbing Dmitry untuk melakukan refleksi harian, menyarankan agar ia mulai mengalokasikan waktunya untuk kegiatan filantropi yang melibatkan interaksi langsung dengan manusia, bukan sekadar mengirim cek. Ia memperkenalkan konsep Sadaqah sebagai cara untuk "membersihkan" harta sekaligus menyembuhkan hati.

Setelah sesi Moskow yang cukup menguras pikiran itu selesai, Cindy menghela napas panjang. Ia merasa haus dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tepat saat itu, ponselnya berdering kencang. Bukan suara dering biasa, melainkan lagu "Ampar-Ampar Pisang" yang disetel khusus sebagai nada panggil untuk Lev Ryley.

"Kak Cindy! Gawat, Kak! Aku baru saja kena musibah spiritual!" seru Lev. Ia tampak sedang berada di sebuah bengkel motor di Banjarmasin, wajahnya penuh noda oli, namun matanya berbinar-binar.

"Musibah apa lagi, Lev? Motor bututmu itu akhirnya menyerah?" tanya Cindy sambil tertawa.

"Lebih parah! Tadi aku mencoba menerapkan teori Zuhud yang Kakak ceritakan waktu itu pada si Jali. Aku bilang, 'Jal, jangan biarkan martabak ini menguasai hatimu.' Eh, si Jali malah beneran makan semua martabaknya sendirian sampai habis, katanya dia mau bantu aku supaya hatiku bersih dari keinginan makan martabak! Aku sekarang lapar dan tidak punya uang, Kak!"

Cindy tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Lev, itu bukan Zuhud, itu namanya kamu ditipu teman sendiri!"

"Tapi ada hikmahnya, Kak," lanjut Lev sambil mengelap wajahnya dengan kain kumal. "Pas aku lapar tadi, aku malah ketemu seorang bapak tua yang bannya bocor. Dia tidak punya uang buat bayar tambal ban. Jadi, uang terakhirku aku kasih buat bayar ban dia. Dan tahu tidak? Bapak itu mendoakan aku panjang umur dan banyak rezeki sampai dia menangis. Rasanya... wah, Kak, lebih kenyang daripada makan martabak keju spesial!"

Cindy terhenti sejenak. Ia teringat Dmitry di Moskow yang memiliki miliaran rubel tapi merasa hampa, dan Lev di Banjarmasin yang kehilangan martabak tapi merasa "kenyang" karena membantu orang lain.

"Lev, kamu baru saja mengajarkan hal yang sama dengan yang aku ajarkan pada miliarder di Rusia tadi," ucap Cindy lembut. "Bahwa kebahagiaan itu tidak ditemukan saat kita mengambil, tapi saat kita memberi. Kamu lebih kaya dari pasienku di Moskow hari ini, Lev."

"Wah, benarkah? Kalau begitu, apa Kakak mau kasih 'bonus' buat sepupumu yang kaya hati ini? Kirimkan aku kode promo makanan daring ya, Kak? Perutku masih berbunyi nyaring nih!"

"Hahaha, dasar! Oke, nanti aku kirimkan. Sudah sana, bersihkan wajahmu. Ahmad baru saja mengirim pesan padaku, katanya dia mau mengajakmu makan malam bersama untuk membicarakan rencana 'masa depan'. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi tolong jangan bikin malu aku ya!"

"Aman, Kak! Ahmad itu sepertinya sudah siap mau jadi 'pemanas ruangan' buat Kakak di Jerman. Aku akan bantu wawancara dia pakai teori psikologi pasar!"

Cindy mematikan telepon dengan wajah merona. Di Dresden yang bersalju, ia merasa tidak lagi kedinginan. Dari Dmitry ia belajar tentang pentingnya makna, dan dari Lev ia belajar tentang indahnya ketulusan. Perjalanan bimbingan konselingnya hari ini telah menutup satu bab lagi tentang betapa luasnya samudera jiwa manusia.

Pesan Edukasi

Bab ini mengeksplorasi konsep Existential Vacuum dan Psikologi Zuhud dalam menghadapi kekosongan hidup di tengah kemewahan. Latar kontras antara Moskow dan Banjarmasin menyoroti bahwa kebahagiaan sejati bersifat universal. Bagi Anda yang ingin mendalami makna hidup dan kesehatan mental secara spiritual, Anda dapat mengunjungi Laman Konseling Keluarga Islami. Untuk wawasan lebih dalam mengenai kota Moskow sebagai destinasi global tahun 2025, silakan merujuk pada Russia Travel Guide.

Nantikan Bab 10: Rindu yang Tercecer di Sydney, di mana Dokter Cindy menghadapi dilema pasangan LDR yang hampir menyerah karena jarak.

  • Lebih baru

    Bab 9: Dinginnya Salju di Moskow

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default