Ikuti perjalanan Dokter Cindy, psikolog Muslimah di Dresden, Jerman, dalam menyembuhkan luka jiwa pasien global dari Tokyo hingga Paris. Dibumbui aksi kocak Lev Ryley dari Banjarmasin, novel Islami 2025 ini menyajikan harmoni antara sains, cinta keluarga, dan ketulusan doa.
Pagi di Dresden pada akhir Desember 2025 ini terasa lebih hening dari biasanya. Salju tipis menempel di bingkai jendela apartemen Dokter Cindy, menciptakan pola kristal yang rumit. Cindy baru saja menyelesaikan dzikir paginya saat alarm di laptop berbunyi, menandakan sesi bimbingan lintas benua akan segera dimulai. Kali ini, layar monitornya menampilkan pemandangan yang memukau namun melankolis: siluet menara Hagia Sophia di Istanbul, Turki, yang berdiri kokoh di bawah langit senja berwarna jingga keunguan.
Pasien hari ini adalah Sultan, seorang relawan kemanusiaan asal Indonesia yang telah menetap di Istanbul selama tiga tahun. Sultan adalah pria yang tangguh, namun hari ini wajahnya tampak layu. Melalui layar, Cindy bisa mendengar suara burung camar yang terbang di atas Selat Bosphorus, namun suara Sultan sendiri terdengar jauh dan rapuh.
"Dokter Cindy," buka Sultan tanpa basa-basi. "Saya baru pulang dari perbatasan. Melihat reruntuhan, mendengar tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua... awalnya saya merasa kuat. Tapi sekarang, setiap kali saya memejamkan mata di kamar apartemen saya yang nyaman ini, saya merasa bersalah. Mengapa saya selamat? Mengapa saya bisa makan enak sementara mereka tidak? Istanbul begitu indah, tapi keindahan ini terasa seperti ejekan bagi saya."
Cindy mengangguk, jari-jarinya menaut tenang. Ini adalah kasus klasik Survivor’s Guilt yang sering dialami oleh para pekerja kemanusiaan. "Sultan, apa yang kamu rasakan adalah bukti bahwa hatimu masih hidup. Namun, rasa bersalah yang berlebihan adalah tipu daya yang bisa melumpuhkan amalmu. Dalam Islam, kita mengenal konsep Qadarullah. Kamu selamat bukan karena kamu lebih berharga dari mereka, tapi karena Allah masih memberimu waktu untuk menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya bungkam di bawah reruntuhan."
Cindy membimbing Sultan melakukan teknik Grounding—sebuah metode psikologi untuk membawa pikiran kembali ke masa kini. Ia meminta Sultan menyebutkan lima hal yang bisa ia lihat di Istanbul saat itu, empat hal yang bisa ia sentuh, hingga satu hal yang ia syukuri. "Jadikan setiap tarikan napasmu di Istanbul sebagai doa untuk mereka yang sudah tiada. Kesedihanmu jangan dijadikan penjara, tapi jadikan bahan bakar untuk bantuan yang lebih besar."
Sesi yang berat itu berakhir dengan isak tangis syukur dari Sultan. Cindy bersandar di kursinya, merasa jiwanya ikut terkuras. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit. Ponselnya bergetar hebat. Panggilan video dari Lev Ryley masuk dengan latar belakang suara musik rebana yang sangat kencang.
"Kak Cindy! Lihat ini! Aku lagi di acara Maulidan di kampung!" seru Lev. Layar menampilkan wajah Lev yang sedang memakai peci miring, dikelilingi oleh piring-piring berisi nasi samin dan daging malbi yang melimpah. "Ini puncaknya kebahagiaan, Kak! Kenyang lahir batin!"
Cindy tersenyum melihat sepupunya yang seolah tak punya beban hidup. "Syukurlah kalau kamu senang, Lev. Baru saja aku bicara dengan seseorang yang sangat sedih di Istanbul, melihatmu makan besar begini rasanya dunia jadi sangat kontras."
"Sedih kenapa lagi, Kak? Apa karena harga kebab naik?" tanya Lev sambil mengunyah kerupuk.
"Bukan, Lev. Ini soal trauma dan rasa bersalah karena selamat dari bencana."
Lev mendadak berhenti mengunyah. Ia terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera. "Kak, bilang sama pasien Kakak itu. Di Banjarmasin, kami punya filosofi 'Waja Sampai Kaputing'. Artinya, kalau sudah melangkah, jangan setengah-setengah. Kalau dia selamat dari bencana, itu artinya tugas dia belum selesai. Jangan merasa bersalah karena hidup, tapi merasa bersalahlah kalau hidup tapi tidak berguna. Suruh dia makan yang banyak, biar tenaganya kuat buat nolong orang lagi. Orang sedih itu biasanya karena perutnya kosong atau hatinya kurang zikir, Kak."
Cindy tertegun. Kalimat Lev yang lugu itu seringkali memangkas kerumitan teori psikologi yang bertele-tele. "Kamu benar, Lev. Kadang solusinya memang sesederhana menyadari bahwa hidup adalah tugas yang harus diselesaikan, bukan beban yang harus diratapi."
"Nah, itu dia! Oh iya, Kak, tadi Ahmad lewat lagi. Dia nanya, paket sambal goreng tempenya sudah sampai ke Dresden belum? Katanya kalau belum sampai, dia mau nyusul ke Jerman bawa ulekan sendiri!"
Wajah Cindy memerah seketika. "Lev! Berhenti menggoda! Sudah, lanjutkan makanmu!"
Setelah menutup telepon, Cindy menatap salju yang mulai turun lebih lebat di Dresden. Ia menyadari bahwa perjalanannya sebagai psikolog adalah perjalanan mencari keseimbangan. Antara tragedi di Istanbul dan tawa di Banjarmasin. Antara luka Sultan dan keceriaan Lev.
Ia mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Sultan di Istanbul: "Sultan, seorang pemuda dari pinggir sungai di Kalimantan menitipkan pesan untukmu: Jangan merasa bersalah karena hidup, tapi gunakan hidupmu untuk menjawab mengapa kamu diselamatkan. Makanlah yang baik hari ini, karena pejuang butuh tenaga."
Malam itu, di tengah musim dingin Jerman tahun 2025, Dokter Cindy merasa hatinya menghangat. Ia menyadari bahwa meskipun ia berada di Dresden, ia memiliki radar yang terhubung ke seluruh dunia—sebuah radar bernama empati yang diperkuat oleh sinyal-sinyal hidayah.
Informasi Tambahan:
Bab ini membahas tentang Survivor's Guilt (rasa bersalah penyintas) dan bagaimana psikologi Islami memandangnya melalui kacamata takdir. Latar Istanbul dan Banjarmasin memberikan kontras visual dan emosional yang kuat. Bagi Anda yang ingin terlibat dalam kegiatan kemanusiaan internasional, Anda dapat merujuk pada ACT Consulting atau Bulan Sabit Merah Indonesia. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang filosofi Waja Sampai Kaputing, kunjungi laman Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Kisah berlanjut ke Bab 8, di mana Lev Ryley akan mencoba melakukan "Deep Talk" dengan warga pasar, yang berujung pada kesimpulan-kesimpulan hidup yang tak terduga.